Friday, March 5, 2010

Hari Yang Berat

1 Minggu awal Maret ini adalah minggu yang berat bagi saya. Mungkin juga yang terberat yang pernah saya lewati!. Kenapa? Momok yang sering saya denger ditempat saya bekerja, yaitu Orang Tua murid yang dengan seenak jidatnya mendatangi dan membentak-bentak guru dengan cara yang sama sekali tidak berpendidikan akhirnya “nyangkut” ke saya.

Jadi waktu itu kejadiannya saya yang udah stand by dikelas, nungguin anak-anak murid datang dipanggil keruang Admission, karna ada satu orang tua yang mau bertemu. Firasat sudah tidak enak, karna orang tua yang dimaksud adalah orang tua yang di “Black List” oleh rekan guru-guru yang lain. Eh benar saja, salam yang baik-baik saya ucapkan dibalas dengan bentakan, hardikan, makian dan lengkap juga dengan muka garang dan sangat tidak bersahabat

Singkat cerita, saya pun memanggil kepala sekolah yang kemudian mengambil alih “ menjadi korban” cercaan yang sangat tidak sopan itu. Shock, saya pun menangis dan tidak dapat mengajar sampai beberapa jam, sehingga kelas pun terpaksa di ambil alih oleh asisten saya. Jujur saja, sudah beberapa kali saya mendengar “tabiat” yang tidak berpendidikan dari pengusaha hasil bumi tadi. Tapi saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa dia akan benar-benar se” Tidak Sopan” kalau boleh kita tidak menggunakan kata “kurang ajar” seperti itu. Saya benar-benar merasa diintimadisi hanya untuk permasalahan yang sangat sepele,Benar-benar sepele! Dan salahnya dia lagi, - Sama Sekali Bukan karna Kesalahan Saya-, Melainkan ANAKNYA SENDIRI!!

Tidak terima ditindas begini, sementara saya tetap harus menjaga perkataan saya karna bagaimanapun saya adalah seorang Pendididik, saya protes kepada Kordinator Sekolah. Untungnya karna memang tindakannya ini keterlaluan sekali dan tidak dapat dibenarkan, Diputuskan untuk memanggil dan menindak orang tua ini yang waktunya belum dapat dipastikan

Kalau mau, rasanya saya ingin sekali membalas sakit hati saya dengan mendatangi dan melakukan hal yang sama dengan anaknya dan juga bapaknya itu! Toh semua guru mendukung saya karna hal ini sudah sering terjadi!!!! Tapi suami mengingatkan, apa gunanya terbawa emosi karna pihak sekolah pun sudah memutuskan untuk mengambil tindakan.

Saya hanya bisa berdoa, semoga setelah anak tersebut mengakui perbuatannya dan mengetahui kesalahannya, Si Bapak itu mau berubah dan menyadari bahwa perbuatan dan tindakannya sangatlah arogan, tidak berpendidikan dan sudah mencoreng lembaga pendidikan. Apa dia mau anaknya juga kami perlakukan seperti Dia tidak menghormati kami??

Tapi jujur saja, teori memaafkan itu sangaaaat susah diterapkan, Terlebih reaksi berlaHawanan dari rekan-rekan guru yang saya tau juga merasakan sakit hati yang sama karna hal ini juga pernah bahkan sering menimpa mereka. Tapi ya sudahlah, seperti nasihat Suami untuk memaafkan dan tidak terbawa emosi, saya akan berusaha, walaupun rasanya sangat sulit sekali terlebih ini bukan karna kesalahan saya. Tapi saya percaya, apa yang ditabur akan dituai,jadi biarkan saja dia , si Pengusaha yang tidak dapat menggunakan akal sehat dan nurani itu disadarkan akan kesalahannya dari hasil perbuatannya sendiri. Be Strong !!

0 comments:

 
Template by suckmylolly.com - header candies by Tayoindesign